au's posts with tag: fortherose
What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
 ...pindah! Akhirnya saya pindah langit! Hore! Yay! Main-main ke langit baru saya. Sampai jumpa di sana!  pssttt... yang saya tutup bukan multiply tapi blogspot
Well, halo dunia, apa kabar? Sejak edisi pertamanya, saya jadi kecanduan majalah ini. Majalah apa itu? Bukan majalah milik sendiri yang sedang saya bicarakan, lho *promo terselubung*, tapi sebuah majalah kesehatan yang berbeda dari yang lain, yaitu Prevention *tsahhh... malah promosiin majalah lain*. Dikomandoi oleh Reda Gaudiamo (kek pernah denger namanya deh deh..), Prevention benar-benar membuat saya membawanya –dan membacanya, tentu saja- kemana-kemana. Salah satu artikelnya bahkan membuat saya terus berpikir untuk berpindah kepercayaan ke kopi organik *halah* (btw, enak nggak sih kopi organik itu?). Dan akibat mengurus sesuatu, saya tersadar bahwa ternyata industri pernikahan itu merupa mesin pengeruk uang! Euww.... jadi mikir *mikir apa?* Anyway, akhir-akhir saya tampak tidak pernah online. Sebenarnya saya ada, sih (selain seminggu benar-benar off akibat laptop tersayang diopname, dan laptop pengganti tidak boleh ‘dimasuki’ YM sama pemiliknya -_-), hanya saja saya meminjam jubah milik Harry Potter. Tsk, mungkin karena itu Harry Potter and The Half Blood Prince ditunda penayangannya hingga pertengahan 2009 *yeee* Kabar gembira, Twilight akan dipercepat ke bulan November. Tapi entah kapan sampai di Indonesia? Dan BIGHEART rencananya akan ikut event Indonesian Christian Retail Expo di JCC tanggal 12 Sept mendatang. Yay! Sementara Miki saya yang lucu sekarang dinobatkan sebagai high maintenance cat yang pernah ada dalam keluarga saya *padahal saya sendiri aja ngga segitu-gitunya. Tsk, dasar kucing :p* Dan... oh, saya belum jahit kebaya! See ya! *melesat nyari model kebaya dulu :D*
 | Dicari! | Sep 2, '08 10:08 PM for everyone |
Orang yang benar-benar mengenal saya.
 | BIGHEART | Aug 21, '08 11:02 AM for everyone |
*Cerita anak-anak mode on* :p Dalam suatu rumah tinggallah seorang anak perempuan bernama Ayu dan kakak perempuannya yang bernama Ruri. Saat itu kedua orangtua mereka sedang berada di luar kota. Sebagai penggantinya, ada Bude yang menjaga mereka. Ayu memiliki seekor kucing jantan bernama Miki yang sangat manja, tapi jarang mengeong. Satu malam, keadaan berjalan sebagaimana biasanya. Dan tibalah waktunya untuk tidur. “Miki,” panggil Ayu. Dia membutuhkan Miki untuk menemaninya tidur. Tapi tidak ada suara lonceng dari kalungnya, yang biasanya selalu terdengar. “Miki,” panggil Ayu sekali lagi. Miki tidak juga menampakkan dirinya. Akhirnya Ruri, kakak perempuan Ayu, dan Bude turut memanggil-manggil Miki. Menit berlalu, tapi Miki tidak juga menampakkan batang hidungnya. Mereka bertiga jadi panik. Ayu mengintip di kolong tempat tidur. Tidak ada. Dalam lemari. Tidak ada. Di bawah sofa. Tidak ada. Dalam gudang. Tidak ada. Wah, kira-kira di mana, ya, Miki? Tiba-tiba terdengar suara lonceng samar-samar. Ayu, Ruri, dan Bude segera menutup suaranya dan menajamkan telinga. Mereka mencoba mengikuti dari mana suara lonceng itu berasal. Menuju ruang makan. Oh, bukan. Menuju dapur. Tampaknya sudah dekat. Bude membuka kunci pintu dapur yang langsung menyambung ke garasi. “Meowwwrrr..” Terdengar suara Miki begitu pintu tersebut dibuka. Oh, ternyata Miki terkurung di garasi. Pasti dia menyelinap keluar saat ada yang membuka pintu, tadi. Dengan segera Ayu menggendong Miki dan mengajaknya ke kamar. Berlalu sudah kepanikan kecil malam itu. Jangan menyelinap diam-diam lagi, ya, Miki!
| Start: | Aug 7, '08 6:00p | | Location: | Sasa's |
*berdoa mode on*
...karena daya tangkapnya selemot kucing ras yang hanya diam saja saat melihat tikus melintas dan baru sadar beberapa menit kemudian saat si tikus sudah duduk nyaman – mungkin sambil menonton tv kabel, kalau ada – di sarang bawah tanahnya. Terpaksa saya menggantinya dengan milik si papa untuk sementara waktu. Tapi dia dua kali lebih besar. Dan ternyata sama lemotnya. Dan ada tiga sistem penangkal di dalamnya yang sama sekali tidak berguna. Keberadaan mereka bagai parasit saja. Akhirnya saya perkenalkan padanya sistem baru yang biasa saya pakai, sambil mengusir tiga parasit itu. Sedikit lebih baik. Saatnya membersihkan dan membuang benda-benda tak penting di dalamnya. Lebih baik. Tapi tetap saja saya tidak bisa mengajaknya ke manapun saya suka. Berat. Fuhhh... berapa hari, ya, masa opname teman saya itu?
Dreamy Idealists are very cautious and therefore often appear shy and reserved to others. They share their rich emotional life and their passionate convictions with very few people. But one would be very much mistaken to judge them to be cool and reserved. They have a pronounced inner system of values and clear, honourable principles for which they are willing to sacrifice a great deal. Joan of Arc or Sir Galahad would have been good examples of this personality type. Dreamy Idealists are always at great pains to improve the world. They can be very considerate towards others and do a lot to support them and stand up for them. They are interested in their fellow beings, attentive and generous towards them. Once their enthusiasm for an issue or person is aroused, they can become tireless fighters.  For Dreamy Idealists, practical things are not really so important. They only busy themselves with mundane everyday demands when absolutely necessary. They tend to live according to the motto “the genius controls the chaos” - which is normally the case so that they often have a very successful academic career. They are less interested in details; they prefer to look at something as a whole. This means that they still have a good overview even when things start to become hectic. However, as a result, it can occasionally happen that Dreamy Idealists overlook something important. As they are very peace-loving, they tend not to openly show their dissatisfaction or annoyance but to bottle it up. Assertiveness is not one of their strong points; they hate conflicts and competition. Dreamy Idealists prefer to motivate others with their amicable and enthusiastic nature. Whoever has them as superior will never have to complain about not being given enough praise. As at work, Dreamy Idealists are helpful and loyal friends and partners, persons of integrity. Obligations are absolutely sacred to them. The feelings of others are important to them and they love making other people happy. They are satisfied with just a small circle of friends; their need for social contact is not very marked as they also need a lot of time to themselves. Superfluous small talk is not their thing. If one wishes to be friends with them or have a relationship with them, one would have to share their world of thought and be willing to participate in profound discussions. If you manage that you will be rewarded with an exceptionally intensive, rich partnership. Due to their high demands on themselves and others, this personality type tends however to sometimes overload the relationship with romantic and idealistic ideas to such an extent that the partner feels overtaxed or inferior. Dreamy Idealists do not fall in love head over heels but when they do fall in love they want this to be a great, eternal love.
...satu, temanmu mengajak makan di Kenny Rogers. Dua, keluargamu mengadakan acara dengan menu makanan ayam bumbu kecap yang membuatmu hanya bisa memandangnya sambil mengambil hidangan sayur di sebelahnya. Tiga, kakakmu pulang membaca McD. Empat, temanmu yang lain membicarakan burger king sambil berniat membelinya seusai acara ngemall kalian. Lima, temanmu (yang lain lagi) menyerah untuk makan sushi karena restonya penuh selalu dan beralih menyantap bebek panggang yang wanginya menusuk hidungmu. Dan enam, budemu datang dan berniat membuatkan rendang andalannya yang menjadi favoritmu.
Lalu kamu berpikir, apakah sebaiknya dihentikan saja? Atau setidaknya ada satu hari bebas deh? Dan kamu menampar dirimu sendiri karena berani berpikir seperti itu.
...saya biarkan menggantung seperti yang saya lakukan pada yang lalu-lalu, dan teronggok begitu saja dalam folder berjudul ‘mau diapakan lagi ini?’ Jangan biarkan perhatianmu teralihkan, Ayu! Fokus! Konsentrasi! Konsentrasi! *nyelesein proyek atau main sulap?* Dan, oh, sebenarnya ada satu yang selalu mengganggu. Well, dia juga berperan besar dalam proyek ini tapi sekaligus menjadi pengalih perhatian terbesar hingga saat ini. Siapa? Itu, itu... buku dan film yang sukses membuat saya kembali jadi anak abege. Tidak masalah, kan? Yang penting dia berperan ganda, turut menyukseskan proyek yang... ingat, tidak boleh kau biarkan menggantung (lagi). Yeah! Sampai jumpa kalau begitu. *memposting tulisan ini, menutup jendela firefox, menyembunyikan diri dari yahoo messenger, dan mulai melanjutkan*
...this before But now I’m feeling it even more Because it came from you And then I open up and see The person falling here is me ~Dreams, The Cranberries~
...menangis karena sedih sambil tertawa karena bahagia, sekaligus?
... seseorang muncul di muka pintu rumah dan menarik saya pergi *tentu saja setelah saya mengepak kebutuhan saya dalam sebuah travelling bag kecil*. Menuju stasiun dan kemudian kami berdua menikmati perjalanan menuju satu kota. Tidak perlu tas Kate Spade yang berharga jutaan itu. Tidak perlu sepatu Charles & Keith yang saya incar itu. Tidak perlu lezat coklat dan harum bunga itu. Bahkan tidak perlu tumpukan buku yang saya mau itu. Hanya sebuah perjalanan. Dan kamu. *menghela napas*
Saya pernah mencoba untuk berselingkuh. Saat itu masih SMA, dan mudah tergoda oleh kebaikan hati laki-laki. Terlebih seorang teman yang notabene adalah teman calon selingkuhan itu terus mendorong saya. Tapi akhirnya tidak berhasil. Entah saya terlalu baik dan setia atau terlalu takut untuk mencoba berselingkuh. Beberapa waktu sesudahnya, setelah hubungan saya dan pacar saat itu usai, saya mengetahui sebuah rahasia; ternyata teman saya menyemangati untuk berselingkuh agar dia bisa merebut pacar saya.
Oh, ternyata ada udang di balik bakwan. Tapi saya hanya tertawa. Entah karena hal tersebut sudah lama berlalu dan saya, toh, sudah putus. Atau karena rencananya untuk membuat saya berselingkuh dan merebut pacar saya tidak berhasil. Atau karena saya tahu sejak lama bahwa dia memang menyukai pacar saya kala itu. Mungkin juga karena saya sendiri pun sebenarnya bersalah karena pernah memiliki niat berselingkuh dan tidak pada tempatnya membenci teman saya. Dia (nyaris) menusuk saya dari belakang, dan saya tidak marah. Wauw, ada apa dengan saya saat itu? Tempo hari, saya baru mengetahui bahwa seorang sahabat telah berselingkuh beberapa kali dari pacarnya yang baik hati. Alasannya hubungan mereka sudah terlalu lama berjalan dan ia membutuhkan letupan-letupan kecil. Saya menganga mendengarkan kisahnya mulai dari laki-laki satu hingga laki-laki kesekian. Saya tidak bisa dan tidak ingin menilai. Saya yang masih saja sendiri ini tentu bukan ahli dalam hubungan laki-laki dan perempuan. Tapi saya tidak bisa menerima alasannya. “Awalnya gue cuma coba-coba aja, Yu.” Hanya mencoba, katanya. Dan saya teringat kisah saat SMA dulu. Saat itu apakah saya memang terlalu takut untuk mencoba, ya? Ngomong-ngomong, apa alasan niat saya berselingkuh, saat itu? Duh, saya lupa.
...cinta pada waktu yang sama ketika hatimu patah berserakan?
Dia ingin menghilang. Sesaat. Menjelma kabut atau aliran air, sebelum akhirnya lahir kembali. Tapi dia tak pernah melakukannya. Ada saja yang menghalangi, atau dia hanya tak berani. Padahal kepalanya yang kerap migrain sudah sesak oleh hal-hal yang sesungguhnya bisa dia buang, termasuk di dalamnya sebuah rasa yang (mungkin) tidak akan pernah tersampaikan, apalagi berbalas, dan sebuah gumpalan iri yang dia takut akan menyebar seperti tumor ganas. Dia tidak ingin tumor ganas itu berakhir menjadi penyakit mematikan. Maka dia memutuskan untuk menghilang. Sesaat. Setidaknya dari dunia tak nyata yang nyata, yang selalu menyelimuti kesehariannya. Lalu dia berkata pada saya, “tolong sampaikan, saya masih bisa dihubungi melalui telepon.” Saya tersenyum pedih. Ah, ternyata dia masih tak berani melakukannya.
Tiba-tiba saja saya ingin menulis tentang kamu. Kenapa kamu begini, kenapa kamu begitu, dan kenapa-kenapa yang lainnya. Kenapa yang tidak akan pernah terjawab karena kamu tidak tahu apa pun. Mungkin ini pengaruh My Blueberry Nights dan Jude Law-nya yang baru saja selesai saya tonton. Mungkin juga karena saya terus membiarkan Norah Jones menyanyikan Come Away With Me berulang-ulang hingga rasanya dia membutuhkan air putih hangat dengan campuran jeruk lemon untuk tenggorokannya (andaikata dia memang menyanyikannya live di depan saya, tentu saja). Saya ingat terakhir kali saya merasa seperti ini. Tahun pertama kuliah. Sudah lama sekali, ternyata. Jadi apa saja yang saya lakukan selama rentang waktu itu? Susah sekali menemukan kamu. Ya, memang saya terlalu pemilih. Saya rasa itu yang menyebabkan ada saja hal yang membuat saya tidak bisa meraih kamu-kamu yang melintas di hati saya. Ya, saya bisa saja mengatakan pada kamu. Atau mungkin, saya suruh kamu memegang dada saya agar kamu langsung merasakan degupan yang kerap muncul saat kamu ada di depan saya. Tapi dengan bodoh saya memutuskan untuk tidak melakukannya. Bukan karena saya malu. Tapi karena saya pengecut. Oh, itu sama saja kah? Kamu tahu, sudah berulang kali saya memutuskan untuk menjauh dari kamu. Sayang, setiap saya memutuskan, setiap itu juga kamu mendadak muncul di depan saya. Dan saya kalah. Lagi dan lagi. Ada apa dengan cinta? Ada apa dengan kamu? Ada apa dengan saya? Ada apa? Come away with me and I will write you a song
| |